A. SENI BUDAYA
1. Kuda Renggong
Yang menciptakan seni kuda renggong yaitu Sipan, dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Pada awalnya secara tidak disengaja, yaitu sekitar tahun 1910-an
| Kuda Silat |
| Kuda Renggong |
Daya tarik yang terdapat dalam atraksi seni kuda renggong, antara lain keterampilan gerak Sang Kuda melakukan gerakan gerakan kaki, kepala dan badan mengikuti irama musik yang mengiringinya.
Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan, mulai dari bupati, gubernur sampai mentri dan pejabat lainnya.
Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan, mulai dari bupati, gubernur sampai mentri dan pejabat lainnya.
2. Seni tari
Atraksi Seni Tari yang ada di Kabupaten Sumedang terdiri dari berbagai jenis seni tari, yaitu :PANCAWARNA
Tarian ini menggambarkan tentang seseorang yang (baru) telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup.JAYENGRANA
Asal kata dari Jaya ing rana. Sebuah tarian yang menggambarkan kegembiraan Raja Amir Hamzah ketika ditolong oleh dua putri cantik: Dewi Sirtupulati dan Ratu Sudarawerti untuk dapat melepaskan diri dari tahanan Raja Banu.GANDAMANAH
Menggambarkan seorang patriot bangsa yang memiliki sikap tidak angkung dan sombong. Ibarat ilmu padi makin berisi makin merunduk.GATOTGACA GANDRUNG
Sebuah tarian yang menggambarkan ketika Gatotgaca cinta kepada Dewi Pergiwa Pergiwati. Tampaknya akibat mabuk kepayang sehingga Gatotgaca lengah. Dalam kondisi psikologis seperti ini maka dimanfaatkan oleh buta cakil untuk menyerangnya dengan leluasa.
Namun demikian, berkat kekuatan dan keampuhan ilmu yang dimilikinya, Gatotgasa bisa tetap unggul dalam pertarungan.IBING SERIMPI
Menggambarkan lima orang putri di bawah pimpinan Nyi Mas Gilang Kencana ketika mengawal Prabu Geusan Ulun dan Permasurinya Nyi Mas Gedeng Waru terjadi clsh dengan pasukan Cirebon.TOPENG KELANA
Menggambarkan Sang Dewi Sekar Kendoja berjuang menolong suaminya Rd. Gagak Pranda ketika menghadapi jurit dengan Barun.
3. Tarawangsa
4. Rengkong
5. Tayub
Tarian tayub bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Artinya, tarian tayub bukan tampilan tari yang memisahkan penonton dengan yang ditontonnya.Dalam tayub semua yang ada (para hadirin) bisa ikut menari walaupun sebenarnya tidak bisa. Dalam tarian tayub ada hal yang menyerupai tarian ketuk tilu., yaitu menghibur, penonton yang menari sambil ikut menari. Perbedaannya dalam prakteknya dan perlengkapan lainnya.Gerakannya merupakan improvisasi. Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.
6. kecapi suling
B. SITUS/PENINGGALAN
1. Cadas Pangeran
Saat ini lokasi Cadas Pangeran telah mendapat penataan, sehingga menjadi simpul wisata Kabupaten Sumedang, dimana suasana yang seram telah menjadi mengesankan dan ramah.
2 Makam Coet Nyak Dhien
3. Gunung Kunci
Di dalam goa tersebut terdapat lorong-lorong besar dan kecil yang menghubungkan kamar-kamar yang ada di dalam goa tersebut. Goa ini digunakan selain untuk pertahanan Belanda juga sebagai tempat tawanan dan gudang senjata.
4. Museum Prabu Geusan Ulun
5. Dayeuh Luhur
ObyekWisata Ziarah, terdapat makam leluhur Sumedang (Prabu Geusan Ulun, raja terakhir Sumedang Larang, Ratu Harisbaya sebagai istri ke tiga dan Embah Jaya Perkosa sebagai patihnya terletak di puncak pegunungan yang keadaan alam dan udaranya masih asli dan sejuk, berada di Desa Dayeuh luhur Kecamatan Ganeas. Prabu Jaya Perkosa tokoh ini sangat di kenal oleh masyarakat khususnya Orang Sumedang, tokoh ini telah membawa kebesaran Sumedang pada waktu itu ketika Sumedang berususan/sengketa dengan kerajaan Cirebon di karenakan Putri Harisbaya. Dalam hal ini merupakan satu ciri atau kisah tersendiri bagi masyarakat Sumedang dan bisa di katakan suatu tanda kejayaan Sumedang yang harumnya dikarena seorang tokoh yang sangat punya kesaktian dan andalan Sumedang Larang pada waktu itu
Kisah Hanjuang
Eyang Jaya Perkosa sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Pakuan Padjajaran, berhasil menyelamatkan Mahkota Kerajaan (Binokasih) serta atribut kerajaan lainnya dan diserahkan kepada raja Sumedang Larang dan sejak saat itu penyerahan mahkota tersebut beliau menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang. Persoalan Putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun menjadikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang, sehingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya.
Namun pasukan Cirebon tidak berhasil mencapai sasarannya karena dihadang oleh pasukan Sumedang Larang yang berada dibawah pimpinan Senapati Eyang Jaya Perkosa.
Konon sebelum Eyang Jaya Perkosa pergi menghadang pasukan Cirebon, beliau menanam pohon Hanjuang di Kutamaya dan meninggalkan amanat : ” Jika Pohon hanjuang ini masih segar, menandakan aku masih hidup dan jangan tinggalkan Kutamaya”. Syahdan menurut cerita pada saat pertempuran, Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam pertempuran itu.
Salah satu dari saudaranya yang bernama Nangganan, menduga bahwa Eyang Jaya Perkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya untuk menyarankan kepada Pangeran Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.
Penyerahan daerah Sindangkasih (Majalengka) sebagai pembayaran talak kepada raja Cirebon serta perkawinan putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun telah mendamaikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang.
Senapati Eyang Jaya Perkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah di tinggalkan.Tentu saja beliau sangat menyesalkan tindakan Pangeran Geusan Ulun dan sesampainya di Dayeuh Luhur beliau membunuh Nangganan, saudaranya atas kesalahannya itu.
Konon kekecewaan Eyang Jaya Pekosa yang sebenarnya adalah harapan untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui kerajaan Sumedang Larang telah gagal.
Sementara pohon Hanjuang yang ditanam oleh Eyang Jaya Perkosa sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (ds. Padasuka Kecamatan Sumedang Utara).
Dendam dan kebencian terhadap musuh juga diisyaratkan kepada keturunannya kelak apabila berziarah ke makamnya dilarang berpakaian BATIK yang menurut pendapatnya sebagai ciri khas pakaian musuh-musuhnya.
Sumber : Babad Sumedang, Waruga Jagat
6. Marongge
Tempat makam tilemnya Embah Gabug dan saudara-saudaranya/adiknya yaitu : Embah Setayu, Embah Naibah dan Embah Naidah. Menurut cerita ke-4 (empat) putri ini sangat cantik tatkala banyak orang/raja-raja pada waktu itu yang ngin mempersuntingnya karena ke-4 (empat) putri itu sangat cantik, namun selalu gagal karena mereka tidak sanggup mengalahkan kesaktian Embah Gabug. Obyek Ziarah Marongge terletak di Desa Marongge Kecamatan Tomo, jaraknya ± 4 km dari Jalan Raya Bandung Cirebon. Setiap saat banyak dikunjungi terutama pada Jum’at keliwon dengan maksud dan tujuannya untuk meminta barokah dari Embah Gabug dan saudara-saudaranya
7. Situs Tembong Agung
8. Gunung Tampomas
| Tempat Semedi Prabu Siliwangi |
Gunung Tampomas merupakan gunung tertinggi diKabupaten Sumedang pemandangan yang indah dan gunung ini masih tetap alami dan merupakan tempat mendaki bagi yang hoby berpetualang naik gunug.
Konon di Tempat ini pernah dipakai peristirahatan (semedi/paseban) Prabu Siliwangi Raja Pakuan Padjajaran.
C. OBYEK WISATA
1. Curug Cipongkor
2. Gunung Lingga
Peninggalan dari Prabu Tajimalela adalah situs batuan menhir yang terdapat dipuncak Gunung Lingga, desa Cimarga, kecamatan Cisitu. Di tempat ini Prabu Tajimalela NGAHYANG atau menghilang setelah takhta kerajaan Sumedang Larang diwariskan kepada putranya yang bernama Prabu Gajah Agung. Petilasan ini terletak di Gunung Lingga Desa Cinarga Kecamatan Cisitu, jaraknya ± 12 km dari Ibu kota Kecamatan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka, dan untuk menempuh lebih lanjut harus berjalan kaki dari Cimarga dengan menempuh jarak 2 km.
3. Cipantenen
4. Curug Sindulang
Cimanggung, dapat dilalui kendaraan. Akan lebih mudah ditempuh apabila menggunakan lintas jalan Cicalengka (Bandung) dengan jurusan Cicalengka Leuwiliang.
5. Cipanas Conggeang
6. Kampung Toga
D. POTENSI UNGGULAN LAINNYA
1. Ubi Cilembu
Areal tanaman yang cocok untuk ubi jalar nirkum di Desa Cilembu saat ini sekitar 100 Ha. Dimana setiap hektar lahan, hanya mampu menghasilkan ubi sebanyak 10 ton dengan lokasi berada di 4 blok yaitu Blok Sawah Lebak, Citiali, Sawah Lega dan Sawah Legok. Sedangkan permintaan perharinya hampir mencapai 23,78 ton
2. Salak Bongkok
Pada umumnya Salak Bongkok banyak dijual di pinggir jalan Negara antara Kecamatan Paseh dan Kecamatan Cimalaka ataupun di tempat lokasi ke arah Conggeang sekitar 2 Km
3. Tahu
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan
4. Sale
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan
5. Ukiran Kayu
Ukiran pada kayu ini tidak terbatas pada perabotan rumah tangga saja tapi juga pada sarana bangunan perkantoran dan perumahan.
Sampai saat ini pasaran ukiran kayu ini selain di dalam negi juga sudah dipasarkan ke manca negara patung Asmat pun sudah dapat dibuat disini.
6. Senapan Angin
HOTEL
| Hotel Puri Mutiara |
Potensi penyediaan Akomodasi dalam menunjang Pariwisata Sumedang mempunyai peluang yang sangat besar dimasa yang akan datang
Pada saat ini di Kabupaten Sumedang telah memiliki lebih dari 18 buah hotel dan penginapan dengan kelas dan fasilitas yang beraneka ragam untuk menunjang bila bendungan Jatigede selesai dikerjakan
Sebagai Informasi Hotel yang ada di Kabupaten Sumedang (daerah kota)
- Hotel Puri Muriara, Jl. Prabu geusan Ulun No. 22 Tlp (0261) 202 102
- Hotel Murni, Jl. Prabu Geusan Ulun No. 188 Tlp (0261) 201 139
- Hotel Hegarmanah, Jl Mayor Abdurachman 165 Tlp (0261) 201 820
- Hotel Kencana Jl. Pangeran Kornel Tlp (0261) 201 642
- Hotel Sutra, Jl Mayor Abdurachman 172 Tlp (0261) 201 742
RENCANA PEMBANGUNAN JATI GEDE
Sumber : http://sosbud.kompasiana.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar